Minggu, 15 November 2015

MONAS



MONUMEN NASIONAL (MONAS )
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.
Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai merencanakan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi penerus.
Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.[1][2][3] Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.





Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962 - 1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.[4][5] Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.





Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto.


AL-ZAYTUN

PESANTREN AL-ZAITUN


Tak bisa disangkal, bangunan pondok pesantren Al-Zaytun yang terletak di desa Gantar, Mekar Jaya, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Propinsi Jawa Barat, merupakan pondok pesantren termegah saat ini. Demikian megahnya, sampai-sampai banyak masyarakat Jakarta khususnya, yang telah terbiasa dengan keberadaan kawasan elite dan modern pun masih tetap terkesima,[1] terkagum-kagum saat mereka berbondong-bondong meninjau dan melihat dari dekat pesantren yang termegah serta terbesar di Asia Tenggara itu.

Setiap pengunjung yang berwisata ke Ma'had Al Zaytun untuk pertama kalinya hampir pasti akan menyimpulkan, inilah gambaran dan wujud sebuah pesantren yang tidak saja terpadu dan megah, juga sangat menjanjikan bagi masa depan Islam wal muslimin di Indonesia.

Sedangkan untuk gedung asrama, baik untuk santri putra maupun putri, diberi nama Al Musthafa, yang letaknya ber-hadapan dan dipisahkan dengan bangunan masjid utama. Di sini, tersedia laboratorium komputer, laboratorium bahasa dan perpustakaan. Fasilitas pendukung asrama seperti ruang makan, kitchen dan laundry disediakan dalam bentuk ruang bangunan rumah makan, yang mampu melayani sekitar 1.700 santri. Kitchen dan laundry[2] masing-masing dalam bentuk bangunan yang luasnya 1.200 meter persegi, dan dilengkapi dengan peralatan modern.

Menurut publikasi yang dilakukan pihak Al-Zaytun, bumi Al-Zaytun yang sebelumnya kering dan tandus,[3] kini ditumbuhi segala jenis tanaman, termasuk pohon Tin, Korma dan Zaytun, yang biasanya hanya bisa tumbuh di negeri yang suhu dan keadaan tanahnya sama dengan negeri-negeri Arab. Pohon Tiin yang diwakafkan oleh pewakif dari Yordania dan Palestina, menurut publikasi mereka, konon hanya dalam tempo 40 hari semenjak ditancapkan akarnya di bumi Al-Zaytun ternyata langsung berputik. Padahal di negerinya sendiri belum tentu bisa secepat itu.

Yayasan Pesantren Indonesia ini dibentuk dan berdiri secara resmi baru sekitar delapan tahun lalu, tepatnya tanggal 1 Juni 1993 atau tanggal 10 Dzulhijjah 1413 H, dengan akte pendirian tertanggal 25 Januari 1994 bernomor 61 pada Notaris Ny. li Rokayah Sulaiman, SH. Meski tergolong baru, "prestasinya" terkesan spektakuler, bahkan sangat luar biasa untuk ukuran sebuah yayasan ummat Islam pada umumnya.

Kemunculan Yayasan Pesantren Indonesia sendiri terkesan tiba-tiba, begitu juga dengan kemampuan mereka menghimpun dana dalam jumlah besar dan dalam tempo yang relatif singkat, mengundang keheranan tersendiri. Apalagi, sampai saat ini kemampuan ekonomi ummat Islam khususnya masih carut-marut, akibat politik peminggiran yang dilakukan oleh rezim Orde Baru terhadap ummat Islam.

Ternyata, YPI (Yayasan Pesantren Indonesia), sebuah yayasan Muslim "partikulir" yang secara formal tidak memiliki kaitan dengan institusi yang lebih kuat seperti yayasan milik Keluarga Cendana (Soeharto)[4], yayasan KORPRI, ataupun ICMI[5] dan yang sejenis, dan tidak pula dengan yayasan-yayasan masyarakat Muslim yang ada sebelumnya, ternyata bisa mengusasi lahan seluas ribuan hektar.

Secara formal, YPI (Ma’had Al-Zaytun) tak punya hubungan dengan –katakanlah–  ICMI dan sebagainya. Namun menurut harian Republika edisi Ramadlan, Desember tahun 2000, dikabarkan bahwa ICMI di bawah kepemimpinan Adi Sasono dan segenap pengurusnya menggelar kegiatan dan kajian bersama dengan Syaikh al-Ma'had Al-Zaytun, AS Panji Gumilang di Pesantren Al-Zaytun, Haurgeulis Indiamayu. Demikian halnya para tokoh Golkar senior seperti, Harmoko, Abdul Ghafur, Isma'il Shaleh, Slamet Efendi Yusuf dan lain-lain.

Yang jelas, YPI dengan Al-Zaytunnya adalah sebuah yayasan yang pengurusnya adalah orang-orang yang bersahaja dan berlatar belakang bersahaja pula. Namun bila tiba-tiba mereka mampu menguasai lahan seluas 1.200 hektar, dengan alasan merupakan tanah waqaf sekalipun, tetap mengundang tanda tanya, dan rasanya mustahil bila tidak punya akses ke institusi yang lebih kuat (minimal secara politis).



TMII


TAMAN MINI INDONESIA INDAH 


Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan suatu kawasan taman wisata bertema budaya Indonesia di Jakarta Timur. Area seluas kurang lebih 150 hektare atau 1,5 kilometer persegi ini terletak pada koordinat 6°18′6.8″LS,106°53′47.2″BT. Taman ini merupakan rangkuman kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat 26 provinsi Indonesia (pada tahun 1975) yang ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur tradisional, serta menampilkan aneka busana, tarian, dan tradisi daerah. Di samping itu, di tengah-tengah TMII terdapat sebuah danau yang menggambarkan miniatur kepulauan Indonesia di tengahnya, kereta gantung, berbagai museum, dan Teater IMAX Keong Mas dan Teater Tanah Airku), berbagai sarana rekreasi ini menjadikan TMIII sebagai salah satu kawasan wisata terkemuka di ibu kota.

Gagasan pembangunan suatu miniatur yang memuat kelengkapan Indonesia dengan segala isinya ini dicetuskan oleh Ibu Negara, Siti Hartinah, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto. Gagasan ini tercetus pada suatu pertemuan di Jalan Cendana no. 8 Jakarta pada tanggal 13 Maret 1970. Melalui miniatur ini diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta tanah air pada seluruh bangsa Indonesia. Maka dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur Indonesia "Indonesia Indah", yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita.
TMII mulai dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975. Berbagai aspek kekayaan alam dan budaya Indonesia sampai pemanfaatan teknologi modern diperagakan di areal seluas 150 hektare. Aslinya topografi TMII agak berbukit, tetapi ini sesuai dengan keinginan perancangnya. Tim perancang memanfaatkan ketinggian tanah yang tidak rata ini untuk menciptakan bentang alam dan lansekap yang kaya, menggambarkan berbagai jenis lingkungan hidup di Indonesia.



AMSTERDAM waterpark



amsterdam waterpark

 Amsterdam Water Park merupakan taman air atau tempat rekreasi air yang berada di kabupaten Tangerang yang terletak di kawasan Villa Tomang Baru Tangerang. Letaknya yang strategis merupakan suatu keutungan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di kabupaten Tangerang. Setiap weekend ataupun liburan Amsterdam Water Park selalu dipadati pengunjung. Miniatur khas negeri Kincir Angin Belanda menjadikan tempat rekreasi ini menarik perhatian sehingga banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan. Ketika berkunjung ke rekreasi Amsterdam Water Park Tangerang, Miniatur Kincir Angin Belanda ini nampak jelas terlihat berada di depan pintu masuk arena rekreasi ini, Seolah membuat pengunjungnya berada di negri kincir angin Belanda.






anda juga dapat bermain Flyng Fox seperti saya ini :

Dengan mengunjungi arena rekreasi Amsterdam Water Park Tangerang anda dan para keluarga ataupun  para sahabat dapat menghabiskan liburan dengan bersenang senang dikolam yang memiliki berbagai design yang unik. Terdapat tiga kolam renang di Amsteram Water Park, Yang pertama ditengah yang besar dan dilintasi oleh Flyng Fox, yang kedua kolam anak didekat area taman, dan yang ketiga kolam bermain air yang dilengkapi dengan sliding dan wildmolen.  Biaya tiket untuk masuk ke arena ini relative murah untuk menengah kebawah mulai dari Rp.20.000,- hingga Rp. 40.000,-. Jangan kuatir dengan harga karena anda akan merasa puas dengan fasiltas yang ada. Seperti Kolam renang, Free Ice Cream dan Bioskop 4D. (Galih)

hutan mangrove KARANGSONG


KARANGSONG INDRAMAYU ( MANGROVE )


Jalan-jalan kali ini bertempat tidak jauh dari tempat kerja yaitu Hutan Mangrove desa Karangsong kabupaten Indramayu provinsi Jawa Barat. Perlu diketahui Hutan Mangrove Karangsong mulai dirawat semenjak tahun 2008 dan berbenah menjadi ekowisata melalui progam CSR Pertamina RU VI Balongan yang dimulai dari tahun 2010 hingga 2014 serta dikelola oleh masyarakat lokal melalui kelompok Tani Lestari menjadikan tempat ini mulai dilirik wisatawan baik dari Indramayu sendiri ataupun dari luar kota. Dengan tersedianya jogging track sepanjang 750 m, pengunjung dapat menikmati kelestarian ekosistem mangrove di kawasan ini dengan mangrove sejati yaitu bakau dan api-api serta masing-masing kelompok mangrove tersebut terpisah menjadi 3 jenis lagi jadi total ada 6 spesies mangrove.


Hutan mangrove ini memiliki luas sekitar 17 ha memang tidak seluas hutan mangrove di Muara Angke Jakarta sekitar 25 ha, Wonorejo Surabaya 300an ha, Bali 3000 ha. Indonesia sendiri secara keseluruhan memiliki hutan mangrove seluas 4,5 jt ha atau 25% dari seluruh hutan mangrove di dunia (Indonesia negara dengan hutan mangrove terluas di dunia). Pengelolaan hutan mangrove Karangsong tidak sebagus di Surabaya dan Bali yang notabene sudah bekerjasama dengan JICA (Japan International Agency). Tapi keberadaan hutan Mangrove Karangsong sangat perlu diperhatikan terutama di pulau Jawa wilayah Barat, dimana hutan semakin hari semakin menyusut luasnya dengan perkembangan pemukiman dan industri. Keberadaan hutan mangrove ini juga dapat menangkal laju abrasi wilayah pantai Indramayu yang sudah terkenal memiliki potensi abrasi yang tinggi. Wisata Mangrove Karangsong Indramayu diharapkan dapat menjadi ekowisata andalan, tempat edukasi dan penelitian mangrove.

Perlu sentuhan dari Pemda Indramayu sendiri untuk menjaga kelestarian hutan mangrove ini dan klo bisa diperluas mencapai minimum 50 ha. Perlu dicontoh untuk beberapa daerah lain yang memang kondisi alamnya cocok untuk pertumbuhan bakau, jika sudah menjadi ekowisata maka otomatis ada penghasilan untuk warga sekitar dan perkembangan daerah itu sendiri. Untuk mencapai hutan mangrove ini harus menggunakan perahu wisata dari kawasan wisata pantai Karangsong, dibutuhkan tidak lebih dari 10 menit perjalanan dengan tarif Rp 10.000,- per orang, untuk masuk kawasan ini juga harus bayar lagi Rp 10.000,- jadi total pengeluaran untuk wisatawan umum Rp 10.000, + Rp 10.000, + Rp 3.000,- (masuk pantai) + Rp 2.000,- parkir kendaraan jadi total Rp 25.000,-.
Bertepatan dengan hari lingkungan hidup pada tanggal 14 Juni 2015, PT. Pertamina (Persero) RU VI Balongan kembali menggemakan nama Karangsong Indramayu melalui upaya pelestarian hutan Mangrove dengan tema Karangsong Mangrove Festival dengan kerjasama bersama Kompas acara ini terdiri dari Penanaman bersama, workshop, tourwisata, lomba lukis, lomba photography, cooking class dan panggung hiburan. Perkembangan mangrove disini sangat pesat dari progam CSR Pertamina pada tahun 2010 penanaman 5000 bibit mangrove, tahun 2012 penanaman 10.000 bibit mangrove, dan untuk 2015 ini 1000 bibit diantaranya (600 bibit mangove, 400 bibit diantaranya cemara , ketapang, dan widuri laut), diperkirakan sekarang sudah ada lebih dari 50 ribu mangrove di kawasan ini dengan bibit yang tumbuh dengan sendirinya.
Sepanjang 2 tahun ini ada 2 menteri datang kesini diundang Pertamina RU VI Balongan yaitu di tahun 2014 Menteri Lingkungan Hidup bapak Balthasar Kambuaya pada saat peletakan batu pertama jogging track hutan mangrove, dan kali ini di tahun 2015 undangan ditujukan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ibu Siti Nurbaya Bakar.
Hadir dalam "Karangsong Mangrove Festival" 2015 ini yaitu Menteri LHK, Ketua Komisi VII DPR RI, Pejabat Kementrian Lingkungan Hidup, GM Pertamina RU VI, Pejabat Pertamina Pengolahan (Kantor pusat), Bupati dan pejabat Pemda Indramayu, Muspida Indramayu, serta Pimpinan Redaksi Harian Kompas.